Tari Baris Kekupu Banjar Lebah merupakan salah satu kesenian tradisional Bali yang berkembang di Banjar Lebah, Desa Adat Sumerta, Kecamatan Denpasar Timur, Kota Denpasar. Tarian ini memiliki ciri khas berupa penggunaan properti sayap kupu-kupu pada kedua tangan penarinya.
Berdasarkan data Ceraken Kebudayaan Bali, Tari Baris Kekupu merupakan warisan seni pertunjukan yang memiliki perjalanan sejarah dan mengalami perkembangan fungsi. Tarian ini awalnya dikenal sebagai tari dekoratif atau hiburan, kemudian juga menjadi bagian dari pelaksanaan upacara keagamaan di Banjar Lebah.
Sejarah Tari Baris Kekupu
Tahun kemunculan Tari Baris Kekupu belum diketahui secara pasti. Namun, keberadaannya diperkirakan sudah ada sejak sekitar tahun 1930-an. Salah satu bukti tertulisnya adalah catatan dalam buku Dance and Drama in Bali karya Walter Spies dan Beryl de Zoete yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1938.
Dalam catatan tersebut, Baris Kekupu digambarkan sebagai tarian dekoratif yang dibawakan oleh empat anak. Catatan itu juga menjelaskan penggunaan sayap kupu-kupu sebagai properti tari di Banjar Lebah, berbeda dari penggunaan kipas yang disebutkan dalam konteks tarian serupa di Tenganan.
Menurut keterangan yang dihimpun Ceraken Kebudayaan Bali, Tari Baris Kekupu di Banjar Lebah diciptakan oleh seniman I Nyoman Kaler dengan bantuan I Wayan Rindi sekitar tahun 1930-an. Tarian tersebut diiringi gamelan Gong Kebyar.
Perkembangan Tari Baris Kekupu
Dalam perjalanannya, Tari Baris Kekupu mengalami perubahan fungsi. Pada awalnya, tarian ini ditampilkan sebagai hiburan dan bukan sebagai tarian sakral.
Sekitar tahun 1953, Tari Baris Kekupu disebut pernah dipentaskan di Bali Hotel, yang sekarang dikenal sebagai Inna Bali Heritage, sebagai hiburan bagi para tamu.
Pada tahun 1961, tarian ini kembali dibawakan oleh generasi penari berikutnya atas permintaan keluarga Griya Gede Lebah, yang kini dikenal sebagai Griya Gede Tegal Jinga. Pementasan tersebut berkaitan dengan upacara Mamukur, yaitu salah satu rangkaian upacara dalam tradisi Hindu Bali.
Karena pementasannya kemudian berkaitan dengan upacara tertentu, keberlanjutan tarian sempat menghadapi kendala regenerasi. Pada tahun 2010, Ni Ketut Alit Arini melakukan rekonstruksi tarian dengan mengingat kembali gerakan dan iringan musik yang pernah dipelajarinya.
Upaya tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga keberadaan Tari Baris Kekupu agar tetap dapat dipelajari dan dipentaskan.
Gerakan dan Ciri Khas Tari Baris Kekupu
Salah satu ciri utama Tari Baris Kekupu adalah penggunaan properti berbentuk sayap kupu-kupu pada kedua tangan penari. Properti tersebut menjadi unsur penting yang membedakannya dari sejumlah tarian Baris lainnya.
Gerakan tari ini memadukan teknik dasar tari Bali dengan gerakan yang menggambarkan perilaku kupu-kupu. Beberapa gerakannya meliputi gerakan mengepakkan sayap, berjalan, berpindah arah, serta menoleh untuk mempertegas arah pandangan.
Menurut dokumentasi Ceraken Kebudayaan Bali, struktur Tari Baris Kekupu terdiri atas empat bagian, yaitu Papeson, Pengawak, Pengecet, dan Pekaad.
Gerakan-gerakannya memerlukan koordinasi tubuh, tangan, kaki, serta ekspresi mata. Penguasaan gerakan tersebut membantu penari menampilkan karakter tarian dengan baik.
Kostum dan Iringan Tari
Kostum Tari Baris Kekupu memiliki unsur yang menyerupai kostum tari Bali, khususnya beberapa unsur yang juga ditemukan pada kostum Tari Legong dan Tari Baris. Perlengkapannya antara lain gelungan atau hiasan kepala, hiasan telinga, hiasan bahu, awiran, serta properti sayap kupu-kupu.
Tarian ini diiringi gamelan Gong Kebyar. Iringan musik tersebut mendukung perubahan tempo dan dinamika gerakan penari sepanjang pementasan.
Perpaduan kostum, properti, gerakan, dan musik menjadikan Tari Baris Kekupu memiliki karakter pertunjukan yang khas dalam kesenian Bali.
Fungsi Tari Baris Kekupu dalam Masyarakat
Tari Baris Kekupu memiliki fungsi yang berkembang sesuai konteks pementasannya. Dalam fungsi dekoratif, tarian ini dapat ditampilkan sebagai pertunjukan seni dan hiburan. Dalam tradisi masyarakat Banjar Lebah, tarian ini juga dipentaskan dalam rangkaian upacara Mamukur serta pada piodalan di Pura Banjar Lebah.
Makna spiritual yang berkaitan dengan perjalanan atma atau roh dalam upacara tersebut merupakan bagian dari kepercayaan masyarakat pendukungnya. Penjelasan mengenai makna itu perlu dipahami dalam konteks tradisi keagamaan setempat.
Selain fungsi ritual dan pertunjukan, keberadaan Tari Baris Kekupu juga mendukung pelestarian keterampilan tari, musik pengiring, serta pengetahuan budaya yang diwariskan antargenerasi.
Upaya Pelestarian Tari Baris Kekupu
Pelestarian Tari Baris Kekupu dapat dilakukan melalui latihan tari, regenerasi penari, dokumentasi gerakan, serta pengenalan kesenian tradisional kepada generasi muda.
Tarian ini pernah ditampilkan dalam kegiatan kebudayaan, termasuk Denpasar Festival dan Pesta Kesenian Bali. Kegiatan seperti ini dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan Tari Baris Kekupu kepada masyarakat yang lebih luas.
Tari Baris Kekupu Banjar Lebah juga tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dengan nomor keputusan penetapan 315/M/2023 pada tahun 2023. Pencatatan tersebut menjadi bentuk pengakuan terhadap keberadaan tarian ini sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
Kesimpulan
Tari Baris Kekupu Banjar Lebah merupakan kesenian tradisional dari Denpasar yang memiliki ciri khas berupa properti sayap kupu-kupu dan iringan gamelan Gong Kebyar. Catatan sejarah menunjukkan bahwa tarian ini telah dikenal sekitar tahun 1930-an dan mengalami perkembangan fungsi dari tari dekoratif menjadi bagian dari tradisi upacara tertentu. Upaya rekonstruksi dan pelestarian membantu menjaga keberadaan tarian ini agar tetap dikenal oleh generasi mendatang.