Tradisi Mengarak Sokok merupakan tradisi masyarakat Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali. Tradisi ini menjadi bagian dari perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW dan memperlihatkan perpaduan unsur budaya Islam dengan budaya lokal Bali. Dalam basis data Ceraken Kebudayaan Bali, tradisi ini tercatat sebagai objek adat istiadat tidak berwujud dengan kondisi baik.
Sejarah dan Latar Belakang
Masyarakat Desa Pegayaman memiliki tradisi perayaan Maulid Nabi yang melibatkan berbagai kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan. Persiapan perayaan dilakukan sejak sekitar satu bulan sebelumnya, antara lain dengan membentuk panitia, menyelenggarakan lomba membaca Al-Qur’an, serta kegiatan wirid.
Salah satu bagian penting perayaan tersebut adalah pembuatan dan pengarakan sokok. Berdasarkan catatan Ceraken, istilah sokok berasal dari kata soko guru. Tradisi ini menjadi salah satu ciri budaya masyarakat Desa Pegayaman.
Jenis-Jenis Sokok
Dalam catatan Ceraken Kebudayaan Bali, terdapat tiga jenis sokok yang digunakan dalam perayaan Maulid di Desa Pegayaman.
1. Sokok Base
Sokok Base merupakan jenis sokok yang diarak pada 12 Rabiul Awal, bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi. Salah satu ciri yang dicatat adalah penggunaan dulang sebagai alas. Dulang dikenal sebagai wadah yang juga digunakan dalam tradisi persembahan masyarakat Hindu Bali.
2. Sokok Taluh
Sokok Taluh termasuk jenis sokok yang diarak pada hari setelah Maulid, dalam rangkaian acara yang disebut Mauludan Sokok.
3. Sokok Kreasi
Sokok Kreasi juga diarak pada rangkaian Mauludan Sokok. Bersama Sokok Taluh, jenis ini dapat mengikuti pawai setelah melalui proses penilaian sebagaimana dicatat dalam sumber resmi.
Ketiga jenis sokok tersebut merupakan bagian dari rangkaian perayaan Maulid di Desa Pegayaman.
Waktu dan Rangkaian Pelaksanaan
Tradisi Mengarak Sokok berlangsung dalam rangkaian perayaan Maulid Nabi pada bulan Rabiul Awal. Berdasarkan catatan Ceraken, tahap-tahap pentingnya meliputi:
- Tanggal 7 Rabiul Awal: malam Mauludan Akutus, ketika masyarakat membuat sokok.
- Tanggal 12 Rabiul Awal: Sokok Base diarak dan dibawa ke masjid.
- Sehari setelah Maulid: Sokok Taluh dan Sokok Kreasi diarak dalam rangkaian Mauludan Sokok, yang dilanjutkan dengan pawai masyarakat.
Pada hari pengarakan Sokok Base, kelompok hadrah mengambil sokok dari rumah pemiliknya untuk dibawa ke masjid. Sementara itu, pada rangkaian Mauludan Sokok, pawai melibatkan masyarakat dan berbagai kelompok yang ada di Desa Pegayaman.
Peran Sekaa Hadrah
Sekaa Hadrah memiliki peran penting dalam tradisi ini. Kelompok tersebut bertugas mengambil dan mengarak sokok dari rumah pemiliknya menuju masjid. Pembagian tugas dilakukan berdasarkan wilayah agar proses pengarakan berjalan teratur.
Dalam rangkaian pawai, kelompok hadrah juga menjadi bagian dari barisan bersama masyarakat dan kelompok seni lainnya. Keterlibatan mereka menunjukkan bahwa tradisi ini bukan hanya tentang sokok sebagai benda budaya, tetapi juga tentang kerja sama masyarakat dalam menjalankan perayaan.
Akulturasi Budaya Islam dan Bali
Salah satu ciri penting Tradisi Mengarak Sokok adalah adanya akulturasi budaya Islam dengan budaya lokal Bali. Hal tersebut terlihat dari pelaksanaan perayaan Maulid Nabi yang dipadukan dengan penggunaan unsur budaya setempat, seperti dulang sebagai alas Sokok Base.
Tradisi ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Desa Pegayaman mempertahankan kegiatan keagamaan sekaligus mewariskan unsur budaya lokal. Pernyataan mengenai akulturasi ini juga tercantum dalam catatan Ceraken Kebudayaan Bali.
Nilai Sosial dan Kebersamaan
Tradisi Mengarak Sokok melibatkan pemilik sokok, kelompok hadrah, tokoh masyarakat, serta warga desa. Persiapan dan pelaksanaannya membutuhkan koordinasi antarkelompok dan partisipasi masyarakat.
Dalam catatan Ceraken, tradisi ini dinilai memiliki fungsi sosial karena dapat mempersatukan warga. Kebersamaan tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya tradisi ini terus dipertahankan.
Upaya Pelestarian
Pelestarian Tradisi Mengarak Sokok dilakukan melalui pelaksanaan perayaan secara turun-temurun dan keterlibatan masyarakat dalam setiap rangkaiannya. Keberadaan kelompok hadrah, proses pembuatan sokok, dan pawai menjadi bagian dari praktik budaya yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dokumentasi Ceraken Kebudayaan Bali juga membantu mencatat tahapan dan unsur tradisi ini agar informasinya dapat dipelajari oleh masyarakat luas.
Kesimpulan
Tradisi Mengarak Sokok merupakan bagian dari perayaan Maulid Nabi masyarakat Desa Pegayaman, Buleleng. Tradisi ini memiliki tiga jenis sokok, yaitu Sokok Base, Sokok Taluh, dan Sokok Kreasi. Pelaksanaannya melibatkan kelompok hadrah dan masyarakat, serta menunjukkan akulturasi budaya Islam dengan budaya lokal Bali.
Tradisi ini juga memiliki fungsi sosial dalam memperkuat kebersamaan masyarakat dan menjadi bagian dari identitas budaya Desa Pegayaman.