Tradisi Ngusaba Bukakak: Ritual Sakral Pengarakan Garuda dan Simbol Kesuburan Tri Datu di Buleleng

Buleleng — Setiap dua tahun sekali pada Purnamaning Sasih Kedasa (sekitar bulan April), masyarakat agraris di wilayah Desa Adat Sangsit Dangin Yeh dan Subak Dangin Yeh, yang secara administratif kini berada di wilayah Desa Giri Emas, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, menggelar ritual adat besar bernama Ngusaba Bukakak. Tradisi sakral yang telah ditetapkan resmi sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda (WBTB) ini dilaksanakan sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen padi yang melimpah sekaligus sarana tolak bala demi keselamatan wilayah desa.

Sejarah Kuno dan Teologi “Bukakak”

Secara historis, tradisi Ngusaba Bukakak telah diwariskan secara turun-temurun oleh krama subak sejak zaman kuno. Istilah Bukakak sendiri memiliki makna teologis mendalam yang berakar dari perpaduan kata sakral masa lalu: “Bu” (singkatan dari Lembu) sebagai simbolisasi Dewa Siwa, dan “Kakak” (singkatan dari burung Gagak) sebagai simbolisasi Dewa Wisnu. Penggabungan ini melambangkan harmonisasi dua kekuatan utama alam semesta dalam memelihara dan menjaga kehidupan bumi.
Secara fisik sesaji, kata Bukakak juga merujuk pada babi guling persembahan yang disajikan dalam posisi dada dibelah terbuka lebar (lebeng asibak).
Bagi masyarakat agraris setempat, ritual akbar ini diselenggarakan sebagai bentuk penghormatan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewa Wisnu beserta sakti-Nya, Dewi Sri (Dewi Kesuburan) dan Dewi Laksmi (Dewi Kemakmuran). Melalui ritual ini, krama subak memohon agar lahan pertanian mereka senantiasa dianugerahi kesuburan tanah, tanaman padi terhindar dari serangan hama penyakit, serta aliran air irigasi selalu tercukupi.

Sarana Bukakak dan Struktur Sesaji Babi Tiga Warna

Puncak keunikan tradisi ini bersumber pada sarana Bukakak itu sendiri. Sarana ini diwujudkan dalam bentuk sebuah tandu atau pelinggih raksasa menyerupai burung Garuda (Paksi). Struktur megah ini dirakit secara gotong-royong menggunakan fondasi utama dari 16 batang bambu besar. Seluruh kerangka badan burung dianyam indah dari daun enau muda (ambu) serta dihiasi ratusan kuntum bunga kembang sepatu merah (pucuk bang).
Di atas replika Garuda raksasa tersebut, ditempatkan sesaji utama paling sakral: seekor babi hitam legam utuh tanpa cacat. Babi ini menjadi simbol perpaduan sekte Siwa, Wisnu, dan Sambhu yang diproses melalui teknik pemanggangan guling sangat spesifik, yaitu hanya dimasak matang pada bagian punggungnya saja, sementara bagian bawah perut/lambungnya sengaja dibiarkan mentah.
Metode pengolahan khusus ini menghasilkan visualisasi tiga warna sakral (Tri Datu) yang mewakili perwujudan para Dewa:

  • Warna Merah: Bersumber dari warna kulit bagian punggung babi yang matang terpanggang, melambangkan Dewa Sambhu.
  • Warna Hitam: Bersumber dari area bulu asli punggung babi yang sengaja disisakan utuh dan tetap mentah, melambangkan Dewa Wisnu.
  • Warna Putih: Bersumber dari kulit babi bagian perut/lambung bawah yang dikerok bersih dari bulu namun dibiarkan mentah, melambangkan Dewa Siwa.

Prosesi Pengarakan dan Aturan Busana Pengusung

Rangkaian ritual Ngusaba Bukakak berlangsung selama beberapa hari, dimulai dari prosesi penyucian (Melasti/Melis) ke segara, ritual Ngusaba Uma di petak-petak sawah, hingga puncaknya pengarakan Bukakak. Pada hari puncak upacara, seluruh krama laki-laki desa mengambil peran dalam barisan pengusung tandu.
Terdapat pembagian tata busana sakral yang wajib dipatuhi berdasarkan kategori usia pengusung:

  • Pakaian Putih-Kuning: Dikenakan oleh remaja laki-laki (usia 12 tahun ke atas atau yang belum menikah) yang bertugas mengangkat tandu pendamping yang berukuran lebih kecil (Sarad Alit) sebagai simbol tunas kehidupan baru.
  • Pakaian Putih-Merah: Dikenakan oleh pria dewasa (usia 17 tahun ke atas atau yang sudah menikah) yang bertugas mengusung tandu utama Garuda raksasa (Sarad Ageng/Bukakak). Kombinasi putih-merah ini melambangkan darah dan getah, zat utama pemelihara kehidupan di alam semesta.

Prosesi pengarakan mengelilingi wilayah desa dan areal persawahan subak menuju Pura Subak (Pura Pasek) berlangsung sangat riuh, dinamis, dan magis. Tandu sengaja digoyang-goyangkan secara ekstrem oleh para pengusung mengikuti ritme cepat dari tabuhan Gambelan Balaganjur khas Buleleng. Sorak-sorai krama membahana sepanjang jalur, dipercaya sebagai simbolis melebur energi negatif serta menetralisir gangguan roh jahat di seluruh penjuru wilayah adat.

Panduan Kunjungan untuk Wisatawan

  • Waktu Pelaksanaan: Digelar berkala setiap dua tahun sekali pada sore hari menjelang matahari terbenam bertepatan dengan hari Purnamaning Sasih Kedasa (kalender Saka Bali), berpusat di areal persawahan subak dan Pura Subak Desa Giri Emas, Sawan, Buleleng.
  • Etika Kunjungan: Wisatawan wajib mengenakan pakaian adat ringan Bali yang sopan (kain sarung/kamen dan selendang/senteng). Selama prosesi pengarakan yang bergerak secara cepat dan dinamis, pengunjung diwajibkan berdiri di batas aman tepi jalur agar tidak menghalangi atau tersenggol barisan pemuda pengusung tandu, serta wajib menjaga kebersihan lingkungan areal subak.

Kesimpulan

Tradisi Ngusaba Bukakak di Kabupaten Buleleng bukan sekadar festival visual yang megah, melainkan sebuah rekaman hidup dari keagungan peradaban agraris Bali Utara. Tradisi ini berhasil melestarikan konsep teologi kuno, solidaritas sosial kemasyarakatan, serta keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam lingkungan yang tetap ajek melintasi zaman.