Badung — Setiap hari Ngembak Geni (sehari setelah Hari Raya Nyepi), suasana di Banjar Teba, Desa Adat Jimbaran, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, mendadak dipenuhi kegembiraan. Masyarakat berkumpul untuk menggelar tradisi Siat Yeh, sebuah ritual sakral pertarungan air sebagai simbol penglukatan agung (penyucian diri lahir batin), peleburan energi negatif, serta permohonan keselamatan bagi krama desa.
Rekonstruksi Budaya dan Pertemuan Dua Sumber Air Sakral
Secara historis, tradisi Siat Yeh merupakan rekonstruksi dari kebiasaan lama masyarakat pesisir Jimbaran terdahulu yang sering bermain air (makecel-kecelan) selepas menjalani keheningan Nyepi. Kata siat berarti perang atau pertarungan, sedangkan yeh berarti air. Tradisi ini kini telah resmi diakui secara nasional sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia dari Kabupaten Badung serta mengantongi hak cipta resmi.
Desa Adat Jimbaran memiliki keunikan geografis karena diapit oleh dua wilayah perairan laut yang berbeda. Ritual ini dimaknai sebagai visualisasi bertemunya dua sumber air laut (tirta) tersebut, yaitu:
- Air Pantai Timur (Suwung): diambil dari sisi pantai timur Jimbaran yang berbatasan dengan kawasan hutan bakau.
- Air Pantai Barat (Segara): diambil dari Pantai Jimbaran di sisi barat desa.
Sebelum tradisi dimulai, prosesi nunas toyo (memohon air) dilakukan oleh dua kelompok pemuda dengan busana khusus pencerminan Catur Dewata. Kelompok timur mengenakan pakaian adat serba putih membawa 5 kendi (simbol Dewa Iswara), sementara kelompok barat mengenakan pakaian adat serba kuning membawa 7 kendi (simbol Dewa Mahadewa). Selain air dari kedua sisi laut tersebut, prosesi juga dilengkapi dengan air suci yang dimohonkan langsung dari sumur suci di Pura Kahyangan Jagat Ulun Swi serta area Campuhan (tempat bertemunya air tawar dan air laut). Krama setempat meyakini bahwa penyatuan elemen-elemen air ini membawa berkah keharmonisan antara alam (bhuana agung) dan manusia (bhuana alit).
Prosesi Pertarungan Air dan Simbol Penyucian
Prosesi diawali dengan upakara sesajen (banten pejati) dan doa bersama di depan parahyangan untuk memohon kelancaran ritual. Setelah seluruh sumber tirta disatukan di kawasan catus pata (perempatan desa) dan dipercikkan oleh pemuka adat, barulah pertarungan air dimulai.
Didampingi alunan musik tradisional Baleganjur, para pemuda (sekaa teruna) dan warga desa yang terbagi dalam dua kelompok mulai saling menyiramkan air ke tubuh satu sama lain dengan penuh suka cita. Siraman air yang membasahi seluruh tubuh peserta melambangkan peluruhan sifat-sifat buruk (klesa) serta penyucian spiritual untuk mengawali Tahun Baru Saka dengan jiwa yang bersih, segar, dan penuh kedamaian.
Panduan Kunjungan untuk Wisatawan
- Waktu Pelaksanaan: Ritual dilaksanakan rutin setiap tahun pada hari Ngembak Geni (sehari setelah Nyepi). Rangkaian acara diawali prosesi sakral nunas toyo atau mendak tirta pada pagi hari (pukul 06.00–11.00 WITA), kemudian dilanjutkan dengan puncak festival pertarungan air (siat yeh) pada siang menuju sore hari (pukul 14.00–17.00 WITA) yang berpusat di areal Banjar Teba, Desa Adat Jimbaran, Kabupaten Badung.
- Etika dan Tata Tertib: Mengingat ini adalah festival perang air di jalanan desa, wisatawan diwajibkan menggunakan pakaian yang sopan (baju kaos dan kain/celana yang siap basah). Wisatawan juga disarankan mengamankan kamera atau barang elektronik dengan pelindung kedap air (waterproof pouch), serta wajib menghormati jalannya ritual adat setempat.
Kesimpulan
Tradisi Siat Yeh di Desa Adat Jimbaran, Badung merupakan wujud nyata kearifan lokal Bali yang memadukan kedalaman nilai spiritual, semangat kebersamaan generasi muda, serta penghormatan terhadap air sebagai sumber kehidupan. Tradisi pasca-Nyepi ini berhasil dikemas menjadi daya tarik pariwisata berbasis budaya tanpa menghilangkan nilai kesakralannya.