Nyepi Segara: Tradisi Masyarakat Desa Kusamba untuk Menghormati Laut

Nyepi Segara merupakan tradisi masyarakat Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, Bali. Tradisi ini merupakan bagian dari rangkaian upacara Ngusaba Segara dan Ngusaba Nini di Pura Segara. Berdasarkan data Ceraken Kebudayaan Bali, Nyepi Segara tercatat sebagai objek ritus, dalam kondisi baik, dan bersifat tidak berwujud.

Pelaksanaan Nyepi Segara

Nyepi Segara dilaksanakan pada Purnama Sasih Kalima menurut penanggalan Bali. Pada pelaksanaannya, seluruh aktivitas di kawasan pantai dan laut Desa Kusamba dihentikan selama satu hari, yaitu dari pukul 06.00 hingga 18.00 WITA. Penghentian aktivitas ini tidak hanya berlaku bagi nelayan dan petani garam, tetapi juga aktivitas penyeberangan laut yang menghubungkan Kusamba dengan Nusa Penida, Nusa Lembongan, dan Nusa Ceningan.

Tradisi ini pada awalnya dilakukan oleh masyarakat yang bekerja sebagai nelayan dan petani garam. Seiring perkembangan waktu, pelaksanaannya didukung oleh seluruh masyarakat Desa Kusamba.

Rangkaian Upacaranya

Sebelum Nyepi Segara dilaksanakan, masyarakat terlebih dahulu melakukan persiapan melalui paruman atau pertemuan yang dihadiri perwakilan delapan banjar adat di Desa Adat Kusamba. Persiapan sarana upacara kemudian dilakukan secara gotong royong.

Pada hari pelaksanaan rangkaian upacara, terdapat prosesi melasti menuju Pura Segara. Setelah rangkaian upacara Ngusaba Segara selesai, dilakukan mulang pekelem ke tengah laut. Dalam prosesi tersebut, sarana upakara dibawa menggunakan jukung menuju tengah laut. Setelah itu dilakukan proses nunas tirta amertha.

Sehari setelah prosesi tersebut, barulah dilaksanakan Nyepi Segara. Selama waktu yang telah ditentukan, masyarakat menghentikan seluruh aktivitas di kawasan pantai dan laut.

Makna Nyepi Segara

Menurut data Ceraken, Nyepi Segara dimaknai sebagai bentuk penghormatan terhadap wilayah pesisir dan laut serta ungkapan rasa syukur masyarakat atas sumber kehidupan yang diberikan oleh laut. Tradisi ini juga dikaitkan dengan upaya menjaga hubungan yang harmonis antara manusia, Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan.

Dalam kepercayaan masyarakat setempat, terdapat pula keyakinan bahwa Dewa Baruna sebagai penguasa lautan sedang melakukan yoga semadi pada saat Nyepi Segara. Bagian ini merupakan keyakinan masyarakat, sehingga tidak ditulis sebagai fakta ilmiah.

Nilai Gotong Royong dan Kebersamaan

Nyepi Segara juga memperlihatkan kuatnya kebersamaan masyarakat Desa Kusamba. Persiapan upacara dilakukan secara gotong royong, mulai dari menyiapkan perlengkapan hingga pelaksanaan rangkaian upacara. Ceraken juga mencatat bahwa warga Muslim Kampung Kusamba menghormati pelaksanaan Nyepi Segara dengan turut menghentikan aktivitas di laut selama tradisi berlangsung, meskipun mereka tidak mengikuti rangkaian upacara Ngusaba Segara dan Ngusaba Nini.