Bungbung Gebyog merupakan kesenian musik tradisional yang berkembang di Desa Dangintukadaya, Kabupaten Jembrana, Bali. Dalam data Ceraken Kebudayaan Bali, Bungbung Gebyog tercatat sebagai objek seni tidak berwujud dengan kondisi baik.
Awal Mula Bungbung Gebyog
Menurut data Ceraken, Bungbung Gebyog berawal dari kegiatan gotong royong menumbuk padi menggunakan kentungan atau lesung. Kentungan tersebut dibuat dari balok kayu yang panjangnya sekitar 4 meter dan lebarnya sekitar 50 sentimeter.
Alat penumbuk yang digunakan disebut luu. Perbedaan pukulan dari para penumbuk menghasilkan suara yang kemudian dikenal sebagai suara oncang-oncangan atau cecandetan. Dari kegiatan tersebut, masyarakat Desa Dangintukadaya kemudian mengembangkan kesenian sederhana yang disebut Gamelan Bungbung Gebyog.
Bentuk dan Alat Musik
Dalam perkembangannya, alat musik Bungbung Gebyog menggunakan bambu satu ruas yang bagian ujungnya dibuat berlubang, sedangkan bagian pangkalnya tetap tertutup. Alat tersebut disebut bungbung.
Bungbung Gebyog terdiri atas beberapa bagian, yaitu bungbung, papan, lesung, dan tabeng. Papan berfungsi sebagai tempat menghentakkan bungbung, sedangkan dua buah lesung digunakan sebagai penyangga papan sekaligus pelawah. Tabeng menjadi bagian tambahan yang berfungsi sebagai ornamen.
Ceraken mencatat terdapat delapan buah bungbung dalam salah satu bentuk gamelan Bungbung Gebyog. Kedelapan bungbung tersebut menggunakan laras pelog empat nada, yaitu Dong, Deng, Dung, dan Ding.
Hubungan dengan Kegiatan Menumbuk Padi
Pola permainan Bungbung Gebyog meniru pola pukulan ketika masyarakat menumbuk padi atau membuat tepung beras. Pada awal kemunculannya, kesenian ini dimainkan oleh perempuan yang melakukan kegiatan pengolahan padi.
Ceraken juga mencatat bahwa pada masa awalnya terdapat delapan orang perempuan yang memainkan Bungbung Gebyog.
Fungsi Bungbung Gebyog
Sejak awal perkembangannya, Bungbung Gebyog digunakan sebagai pengiring upacara keagamaan. Ceraken mencatat bahwa masyarakat pada saat itu mengaitkan kesenian ini dengan Dewi Sri.
Bungbung Gebyog juga dipentaskan dalam kegiatan mantenin padi di lumbung. Dalam sumber tersebut, pementasan dikaitkan dengan ungkapan rasa syukur atas hasil panen.
Seiring perkembangannya, Bungbung Gebyog juga digunakan sebagai pengiring tarian seperti Joged Bumbung dan sebagai sarana hiburan masyarakat.
Perkembangan Pementasan
Ceraken mencatat bahwa sekitar tahun 1925, Bungbung Gebyog mengalami perkembangan dalam bentuk pementasan sebagai pengiring drama tari Prabu Lasem.
Dalam perkembangannya, kesenian ini juga pernah dimainkan oleh dua hingga tiga grup barungan secara bersama-sama, yang disebut Mebarung.
Pelestarian
Bungbung Gebyog masih mendapatkan upaya pelestarian di Desa Dangintukadaya. Ceraken mencatat bahwa kesenian ini ditampilkan dalam kegiatan HUT Kota Negara setiap bulan Agustus dan dalam Pesta Kesenian Bali (PKB).
Selain itu, dilakukan pula sosialisasi dan pelatihan Bungbung Gebyog kepada berbagai generasi di Desa Dangintukadaya.
Bungbung Gebyog menunjukkan hubungan antara kesenian musik, kegiatan pengolahan padi, kehidupan masyarakat, dan perkembangan budaya di Desa Dangintukadaya, Jembrana.