Barong Swari merupakan kesenian tradisional yang terdapat di Desa Jumpai, Kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung, Bali. Dalam data Ceraken Kebudayaan Bali, Barong Swari tercatat sebagai objek seni tidak berwujud dengan kondisi baik.
Asal dan Perkembangan
Menurut catatan Ceraken, keberadaan Barong Swari di Desa Jumpai berkaitan dengan ditemukannya bagian topeng atau punggalan barong di Pura Dalem Setra Kekeran. Masyarakat kemudian melengkapinya dengan badan atau pareraga beserta perlengkapannya sehingga terbentuk Barong Ket.
Namun, cerita mengenai kejadian-kejadian gaib dalam sejarah Barong Swari merupakan cerita dan kepercayaan masyarakat setempat, sehingga tidak tepat diposisikan sebagai fakta sejarah yang dapat dibuktikan secara ilmiah.
Dalam perkembangannya, pertunjukan Barong Ket atau barong mesolah di Desa Jumpai kemudian dikenal dengan nama Barong Swari berdasarkan kesepakatan tokoh masyarakat dan seniman setempat. Barong Swari juga dikenal dengan sebutan Barong Kaswari atau Barong Jumpai.
Jenis Barong
Barong Swari yang dikeramatkan masyarakat Desa Jumpai termasuk jenis Barong Ket. Dalam pementasannya, Barong Ket berpasangan dengan Rangda sebagai bagian dari cerita dan simbol yang terdapat dalam pertunjukan.
Barong Swari memiliki dua bagian utama, yaitu punggalan dan pareraga. Bagian tersebut dilengkapi berbagai hiasan, seperti sekar taji, ronron, badong, gelung kekendon, geruda mungkur, serta berbagai hiasan lainnya.
Penari dan Musik Pengiring
Barong Swari dimainkan oleh dua orang penari yang disebut juru saluk atau juru bapang. Satu penari berada di bagian kepala, sedangkan penari lainnya berada di bagian belakang atau ekor barong.
Dalam pementasannya, Barong Swari diiringi oleh gamelan Semar Pagulingan.
Pementasan
Barong Swari memiliki keterkaitan dengan kegiatan keagamaan masyarakat Desa Jumpai. Ceraken mencatat bahwa pementasan dilakukan setiap 15 hari sekali, yaitu pada Hari Kajeng Kliwon, di perempatan desa pada sore hari.
Selain itu, Barong Swari juga hadir dalam kegiatan ngejengin wali di sejumlah pura yang berada di lingkungan Desa Jumpai.
Karena berkaitan dengan kegiatan keagamaan, pementasan sakralnya disertai dengan sarana upacara dan perlakuan khusus. Ceraken juga mencatat bahwa penari barong yang baru bergabung harus menjalani mewinten sebagai bagian dari proses penyucian diri menurut tradisi setempat.
Cerita dalam Pertunjukan
Cerita Barong Swari memiliki beberapa versi, tetapi menurut Ceraken memiliki inti cerita yang berkaitan dengan Barong dan Rangda. Dalam salah satu versi, Barong digambarkan sebagai perwujudan Dewa Wisnu, sedangkan Rangda dikaitkan dengan Dewi Durga.
Pertentangan keduanya menggambarkan kebaikan dan kejahatan dalam pemaknaan budaya dan keagamaan masyarakat Bali. Bagian ini merupakan mitologi atau pemaknaan keagamaan, bukan catatan sejarah faktual.
Fungsi dan Nilai Budaya
Barong Swari memiliki fungsi yang berkaitan dengan keagamaan dan seni pertunjukan. Pementasannya menjadi bagian dari kegiatan upacara sekaligus menjadi media penyampaian cerita dan nilai moral kepada masyarakat.
Ceraken juga mencatat adanya nilai estetika, sosial, keagamaan, dan pendidikan dalam keberadaan Barong Swari. Pewarisan kemampuan memainkan barong dilakukan secara berkelanjutan kepada generasi berikutnya.
Pelestarian
Barong Swari tetap dipertahankan oleh masyarakat Desa Jumpai melalui pementasan dalam kegiatan keagamaan dan pewarisan kepada generasi muda.
Ketika dipentaskan di luar konteks upacara, masyarakat menggunakan duplikat barong sehingga barong yang menjadi sesuhunan tetap dipertahankan kesakralannya. Ceraken juga mencatat bahwa Barong Swari pernah dipentaskan di luar daerah dan dalam kegiatan budaya seperti Pesta Kesenian Bali (PKB).
Kesimpulan
Barong Swari merupakan kesenian tradisional masyarakat Desa Jumpai, Klungkung, yang termasuk jenis Barong Ket dan memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan keagamaan masyarakat setempat. Barong ini dimainkan oleh dua penari, diiringi gamelan Semar Pagulingan, serta dipentaskan dalam berbagai kegiatan keagamaan dan budaya.