Uyah Kusamba merupakan garam yang dihasilkan melalui teknik pembuatan garam tradisional di Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, Bali. Keahlian ini diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari kehidupan ekonomi masyarakat pesisir. Ceraken Kebudayaan Bali mencatatnya sebagai warisan teknologi tradisional dengan kondisi baik.
Sejarah dan Perkembangan
Desa Kusamba berkembang sebagai kawasan pelabuhan yang memiliki hubungan perdagangan dengan berbagai pelabuhan di Bali dan luar Bali. Dalam catatan Ceraken, garam termasuk salah satu produk yang diperdagangkan melalui Pelabuhan Kusamba.
Kegiatan pembuatan garam tradisional di Kusamba telah diwariskan selama lebih dari sepuluh generasi. Meskipun demikian, sumber tersebut tidak menetapkan tahun pasti dimulainya kegiatan pembuatan garam di wilayah ini.
Pada 1976, kelompok petani garam bernama Sarining Segara terbentuk. Kelompok petani dan usaha garam rakyat turut berperan dalam mempertahankan teknik produksi tradisional serta mendukung keberlanjutan mata pencaharian masyarakat.
Bahan dan Peralatan
Pembuatan Uyah Kusamba memanfaatkan air laut dan pasir sebagai bagian dari proses pengambilan larutan garam. Peralatan tradisional yang tercatat dalam sumber Ceraken meliputi:
- Tulud: alat untuk meratakan pasir.
- Upih: pangkal pelepah daun pinang yang digunakan untuk mengambil air laut.
- Garuk dan sekop kayu: alat untuk mengumpulkan pasir yang telah dikeringkan.
- Belong: tempat penampungan air hasil penyaringan pasir.
- Pipa bambu: saluran penghubung bak pasir dengan tempat penampungan air.
- Palungan: tempat untuk menjemur air hasil penyaringan hingga terbentuk garam.
- Kukusan: alat untuk meniriskan hasil panen garam.
Peralatan tersebut merupakan bagian dari pengetahuan tradisional yang digunakan dalam proses produksi garam di Kusamba.
Proses Pembuatan Uyah Kusamba
Berdasarkan tahapan yang dijelaskan dalam Ceraken Kebudayaan Bali, proses pembuatan Uyah Kusamba berlangsung sebagai berikut.
- Menjemur pasir. Pasir diratakan di area datar dan dijemur. Perataan dilakukan dua kali sehari, pada pagi dan sore hari.
- Menyiram pasir dengan air laut. Setelah pasir diratakan, air laut diambil dari tepi pantai dan disiramkan ke permukaan pasir.
- Mengeringkan dan mengumpulkan pasir. Pasir yang telah disiram dijemur sekitar satu hari, kemudian dikumpulkan menggunakan garuk dan sekop kayu.
- Menyaring air garam. Pasir dimasukkan ke bak penampungan dan disiram kembali dengan air laut. Air hasil penyaringan dialirkan melalui pipa bambu ke wadah penampungan yang disebut belong.
- Menjemur air hasil penyaringan. Air tersebut dituangkan ke palungan, yang umumnya dibuat dari batang pohon kelapa.
- Memanen garam. Garam yang terbentuk ditiriskan menggunakan kukusan, kemudian dikemas dan disimpan.
Sumber resmi juga menjelaskan bahwa lama penjemuran air hasil penyaringan memengaruhi kualitas garam. Menurut catatan tersebut, penjemuran tidak boleh lebih dari satu hari agar rasa garam tidak menjadi pahit.
Fungsi Ekonomi dan Sosial
Pembuatan Uyah Kusamba mempunyai beberapa fungsi bagi masyarakat setempat.
1. Memenuhi kebutuhan konsumsi
Garam merupakan bahan kebutuhan sehari-hari yang digunakan dalam pengolahan makanan.
2. Menjadi mata pencaharian
Produksi dan penjualan garam membantu menopang pendapatan keluarga petani garam.
3. Memperkuat kerja sama masyarakat
Kelompok petani garam menjadi wadah untuk berkomunikasi, bekerja sama, dan membahas persoalan yang berkaitan dengan usaha mereka.
4. Mendukung pariwisata budaya
Teknik pembuatan garam tradisional menjadi bagian dari pengetahuan lokal yang dapat dikenalkan kepada masyarakat dan pengunjung.
Nilai Budaya
Ceraken mencatat tiga makna penting dalam kerajinan garam tradisional Kusamba, yaitu kesetaraan, pelestarian, dan pemberdayaan.
- Kesetaraan: kegiatan produksi melibatkan pekerja laki-laki maupun perempuan.
- Pelestarian: teknik pembuatan garam tradisional diwariskan antargenerasi.
- Pemberdayaan: kelompok petani garam membantu masyarakat mempertahankan keterampilan dan mendukung penghasilan keluarga.
Nilai-nilai tersebut menunjukkan bahwa Uyah Kusamba tidak hanya berkaitan dengan hasil produksi, tetapi juga dengan pengetahuan dan kehidupan sosial masyarakat pesisir.
Upaya Pelestarian
Pelestarian Uyah Kusamba dilakukan melalui keberlanjutan kegiatan produksi tradisional, pembentukan kelompok petani garam, serta dukungan terhadap usaha garam rakyat. Ceraken juga mencatat adanya kebijakan pemerintah yang mendukung pemasaran dan pengembangan produk pertanian, perikanan, serta industri lokal Bali.
Kesimpulan
Uyah Kusamba merupakan produk garam tradisional dari Desa Kusamba, Kabupaten Klungkung, yang dibuat menggunakan air laut, pasir, dan peralatan tradisional. Prosesnya meliputi penjemuran pasir, penyaringan air garam, penjemuran air hasil penyaringan, hingga pemanenan. Selain memenuhi kebutuhan konsumsi, tradisi ini berperan dalam perekonomian masyarakat, kerja sama kelompok petani, dan pelestarian pengetahuan lokal.