Karangasem — Setiap bulan kelima dalam kalender adat Bali Aga (Sasih Kelima), suasana di Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, mendadak bergemuruh. Masyarakat berkumpul untuk menyaksikan tradisi Perang Pandan atau Mekare-kare, sebuah ritual pertarungan sakral menggunakan pelepah pandan berduri sebagai wujud penghormatan tertinggi kepada Dewa Indra, dewa perang sekaligus pelindung umat manusia bagi masyarakat setempat.
Sejarah Abad Kuno dan Mitologi Dewa Indra
Secara historis, tradisi Perang Pandan telah diwariskan secara turun-temurun oleh krama Bali Aga di Tenganan sejak zaman kuno. Menurut mitologi lokal setempat, Raja Maya Denawa yang sakti dan sombong pernah memerintah wilayah Bali dengan sewenang-wenang serta melarang rakyat melakukan ritual keagamaan.
Dewa Indra kemudian turun ke bumi untuk memimpin peperangan melawan Maya Denawa hingga berhasil menumpas raja zalim tersebut. Sebagai bentuk penghormatan atas perlindungan Dewa Indra, krama Desa Adat Tenganan mengabadikan peristiwa kemenangan tersebut melalui ritual pertarungan Mekare-kare yang diselenggarakan setiap tahun dalam rangkaian upacara Sasih Sembah.
Atribut Pertarungan dan Filosofi Bebas Rasa Dendam
Dalam pertarungan Mekare-kare, para pemuda dan pria dewasa desa berhadapan satu lawan satu di atas panggung khusus (panggung pertarungan). Setiap peserta dibekali seikat pelepah pandan berduri (kare) di tangan kanan serta sebuah perisai berbentuk bundar dari anyaman rotan (tamiang) di tangan kiri.
Didampingi oleh penengah (wasit adat), kedua peserta saling menyabetkan pelepah pandan berduri ke bagian punggung lawan diiringi irama dinamis gambelan Selonding—alat musik kuno sakral khas Tenganan. Meskipun pertarungan menimbulkan luka goresan dan tetesan darah di punggung, tidak ada rasa dendam sedikit pun di antara para peserta.
Usai pertarungan, seluruh peserta akan duduk bersama dalam tradisi megibung (makan bersama). Luka-luka goresan tersebut diolesi ramuan obat tradisional (boreh) khas Tenganan yang diracik oleh para gadis desa (dahe). Ramuan ini terbuat dari campuran kunyit, lengkuas, bangle, dan cuka, yang terbukti ampuh mengeringkan luka dengan cepat tanpa meninggalkan infeksi.
Panduan Kunjungan untuk Wisatawan
- Waktu Pelaksanaan: Ritual dilaksanakan rutin setiap tahun selama dua hari pada puncak upacara Sasih Sembah (biasanya jatuh sekitar bulan Juni atau Juli) mulai pukul 14.00 WITA di areal arena panggung Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Karangasem.
- Etika dan Tata Tertib: Wisatawan diwajibkan menggunakan pakaian adat ringan atau kain sarung khas Bali (kamen) yang sopan, menjaga jarak aman di sekitar panggung pertarungan agar tidak terkena sabetan pandan, serta mematuhi seluruh aturan adat desa setempat.
Kesimpulan
Tradisi Perang Pandan di Desa Adat Tenganan Pegringsingan Karangasem merupakan warisan budaya bernilai tinggi yang memadukan keberanian fisik, kedalaman teologi Hindu Bali Aga, serta semangat persaudaraan yang utuh.