Badung — Setiap hari Ngembak Geni atau sehari setelah pelaksanaan Hari Raya Nyepi, pesisir Desa Adat Kedonganan, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, mendadak dipenuhi pemandangan unik dan tidak biasa. Warga setempat melumuri seluruh tubuh mereka dengan lumpur hitam pekat dari hutan bakau (mangrove) sebelum akhirnya membasuh diri bersama-sama di Laut Kedonganan.
Sejarah dan Nilai Filosofis Penyucian Diri
Secara historis, tradisi Mabuug-buugan berakar dari kearifan lokal masyarakat pesisir Kedonganan sejak zaman dulu. Kata mabuug-buugan berasal dari kata buug yang dalam bahasa Bali berarti lumpur atau tanah. Tradisi ini sempat vakum selama puluhan tahun sejak sekitar tahun 1963 akibat situasi politik dan dinamika sosial lokal, hingga akhirnya dibangkitkan kembali secara konsisten oleh tokoh adat dan krama Kedonganan pada tahun 2015 untuk melestarikan warisan leluhur.
Filosofi utama dari ritual ini adalah simbolisasi pembersihan kotoran serta menetralisir sifat-sifat buruk pada alam semesta dan diri manusia (Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit). Lumpur dilambangkan sebagai wujud kotoran, sifat buruk, dan energi negatif (Bhutakala) yang melekat pada diri manusia selama setahun terakhir dan harus dibersihkan.
Prosesi Pelaksanaan dari Mangrove ke Laut
Rangkaian prosesi dimulai pada siang hari sekitar pukul 14.00 WITA. Seluruh krama desa, mulai dari anak-anak, pemuda, hingga tokoh tua berpakaian adat ringan berkumpul dan berjalan menuju kawasan hutan mangrove di sebelah timur desa.
Di area mangrove, warga melumuri seluruh tubuh dan wajah mereka menggunakan lumpur alami secara bergotong royong. Setelah tubuh terbalut lumpur hitam, rombongan warga berjalan berarak menuju Pesisir Pantai Kedonganan di sebelah barat. Di sepanjang jalan, warga memanjatkan doa dan bersuka cita. Puncak acara ditutup dengan aksi menceburkan diri bersama ke dalam air laut untuk membilas seluruh lumpur hingga bersih, yang melambangkan kembalinya manusia ke kondisi suci dan bersih dari hal-hal negatif.
Panduan Kunjungan untuk Wisatawan
Waktu Pelaksanaan: Ritual Mabuug-buugan digelar rutin setiap sore hari Ngembak Geni (hari pertama setelah Hari Raya Nyepi selesai) mulai pukul 14.00 WITA di kawasan Desa Adat Kedonganan, Badung.
Etika dan Kebersihan: Wisatawan yang hadir diwajibkan menggunakan pakaian adat ringan (kamen dan selendang), mengamankan perangkat kamera atau ponsel dengan pelindung anti-air, serta menjaga kebersihan dan ketertiban lingkungan tempat ritual berlangsung.
Kesimpulan
Tradisi Mabuug-buugan di Kedonganan Badung merupakan bukti keunikan ritual Bali yang menyatukan nilai spiritual penyucian diri pasca-Nyepi dengan kesadaran menjaga kelestarian ekosistem mangrove dan pesisir pantai.