Sebuah video berjudul “BENDERA PUTIH untuk SUMATRA” menyebar dengan puisi yang menusuk kalbu. Ini adalah jeritan hati dari tanah yang dilanda musibah.
“Kami masih percaya Indonesia itu Merah Putih,” bunyi bait pertama, sebuah pengakuan setia sebagai anak bangsa. Namun, realita berkata pilu: “Sekarang Darah bercampur lumpur. Menunggu Tulang putih menyumbur.” Dua baris itu menggambarkan tragedi yang menghanyutkan nyawa dan harapan.
Lalu, datang pertanyaan yang menggetarkan:
- “Kami masih percaya Sumatra itu Indonesia… Tapi saat kami dimakan tanah, apakah Bangsa kami mencarinya?”
- “Katanya NKRI harga mati. Tapi Ketika kami mati, masihkah kami berharga?”
Pertanyaan ini menguji makna solidaritas dan slogan kebangsaan kita. Apakah perhatian dan bantuan datang sepenuh hati untuk saudara-saudara yang tertimpa bencana?
Di akhir, ada doa dan harapan: “Semoga bendera kita masih sama. Merahnya pulih. Putihnya bersih.” Harapan agar semangat kebangsaan kita pulih dalam bentuk kepedulian nyata dan bantuan tulus.
Video dari @dangaumedia ini adalah cermin bagi kita semua. Saat Sumatra terluka, seluruh Indonesia ikut merasakannya. Solidaritas harus lebih dari kata-kata. Ia perlu jadi aksi nyata: donasi, dukungan, dan perhatian yang tak padam.
Bendera putih itu pengingat: sebelum Merah Putih berkibar gagah, pastikan tak ada lagi saudara kita yang terlupakan di reruntuhan dan lumpur.