Sistem irigasi tradisional Bali menjadi bagian tak terpisahkan dari pemandangan pedesaan yang masih asri dan tertata rapi. Aliran air yang mengalir melalui saluran-saluran irigasi ini berfungsi sebagai sumber utama pengairan lahan pertanian, khususnya sawah, yang menjadi mata pencaharian utama masyarakat desa.
Sistem irigasi tradisional Bali, yang dikenal sebagai subak, mengatur distribusi air secara adil dan berkelanjutan. Air dialirkan dari sumber mata air dan sungai menuju petak-petak sawah melalui jalur yang dirancang dengan cermat, mencerminkan kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Keberadaan sistem irigasi tradisional Bali tidak hanya mendukung produktivitas pertanian, tetapi juga menjadi simbol harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas. Nilai-nilai ini sejalan dengan filosofi Tri Hita Karana yang menjadi landasan kehidupan masyarakat Bali.
Pemandangan pedesaan dengan aliran air yang tertata rapi ini kini juga menjadi daya tarik wisata berbasis alam dan budaya. Selain memberikan ketenangan visual, sistem tradisional Bali berperan penting dalam menjaga kelestarian warisan budaya agraris yang diakui dunia